When Iโ€™m Feeling Sad

I think I’m feeling sad right now. Yes, “I think”. Hilarious, isn’t it? That’s how INTP admit their feelings, they think about those things that make their mind more chaotic than usual, and finally they admit it (it usually takes 2 until 3 days).

Anyway, this his how I manage to cure the sadness: singing. My own ultimate way to reach zen state. One of those time when I can embrace feelings and emotions.

Advertisements

Silence Days

I’ve been silent these past few days, not literally silent since I still have to go to work, I also still update instagram stories, and of course I still talk with my close friends.

I mean, I’ve practiced listening, observing, and understanding. I’ve tried to control my buzzing mind and shut down my ego. I don’t know why I did this, but these several days of silence has made me realized that I’m not the center of the universe, I’m just a prime number just like the others. Why “prime”? Because every person has their own uniqueness.

Maybe it’s true, at least for once in a while we need to be quiet near a little stream and listen.

I think I should continue doing this, maybe this activity can help me to improve my self.

Keseimbangan

Ada yang didapat, ada yang diambil, hal itu yang selalu gue yakini. Di saat gue mulai-mulai whining, mulai kesel sama kehendak Dia, gue selalu berusaha untuk inget apa-apa aja yang udah gue dapatkan sampai-sampai harus ada yang diambil dari gue.

Udah ya ma, inget resolusi “let go of things you can’t control”. Belajar ikhlas, keh? ๐Ÿ™‚

Grief I Canโ€™t Explain

“Sampai kapan berlindung di balik “gue bukan anak orang ada” ?”

Kalimat itu terlontar dari seorang teman saat gue mengambil keputusan besar beberapa bulan yang lalu.

*kemudian gue bingung mau nulis apa supaya tidak terkesan excuse*

Pernah nonton film berjudul Wonder? Ada sebuah quote yang menjadi trademark dari film ini, “When given the choice between being right and being kind, choose kind.” Gue nonton itu sehabis patah hati, saat itu gue sangat marah karena seseorang membohongi gue dengan sengaja, entah untuk apa tujuannya. Awalnya gue berpikir mungkin dia seseorang yang narsistik dan manipulatif, mungkin gue benar soal kemungkinan itu, tapi ada hal yang bikin gue tersadar setelah nonton film Wonder itu, yaitu alasan di balik kelakuan brengseknya itu. Mungkin aja di keluarganya dia dituntut untuk selalu jadi yang terbaik, seperti yang dia pernah ceritakan ke gue bahwa karena dia adalah cucu pertama dari anak laki-laki pertama makanya dia merasanya dia harus ‘sempurna’. Sayangnya yang namanya manusia tentu saja penuh keterbatasan, mungkin dia pikir kalau gagal jadi sempurna ya paling tidak manipulasi aja pandangan orang sehingga seakan-akan dia itu sempurna. Mungkin kelakuan itu kebawa ke mana-mana, termasuk saat dia mencoba menjalin hubungan dan mencari orang yang tepat untuk dia, terpaksa bohong berlapis-lapis dengan tujuan terlihat baik. Agak kasihan sih, entah apa yang salah, apa benar keluarga besarnya segitunya menuntut dia ini dan itu? Atau dianya aja membebani diri sendiri? Gue akhirnya menjauh, dan dia juga udah nggak mau dekat lagi sih kayaknya, malu juga kali ya ketahuan busuknya. Tapi ada yang gue sesali, harusnya gue bisa bersikap lebih baik ke dia, gue beberapa kali confront dengan kata-kata yang menyakitkan, harusnya setelah tau dia begitu ya gue gausah confront, ngilang aja langsung, itu cara terbaik untuk “choose kind” karena gaperlu nyakitin orang dan gaperlu nyakitin diri sendiri. Dengan confront, yang terjadi ya sebaliknya, gue ga ada power buat ngubah orang apalagi hanya dengan konfrontasi, dan ujung-ujungnya nyakitin diri gue sendiri juga.

Oke maaf kepanjangan curcolnya, intinya gue harusnya lebih mikir kemungkinan kenapa orang begini, kenapa orang begitu, jadi ngga perlu kesel sendiri, karena kita nggak tau kesusahan apa yang dialami orang lain, tiap orang pasti punya “grief they can’t explain”.

Kalau gue, fakta bahwa gue lahir dari keluarga yang bukan orang ada lah salah satu “grief I can’t explain” tersebut. Buat temen gue itu mungkin gampang aja bisa ngomong kayak gitu, karena dia ngga pernah ngerasain. Gapernah ngerasain takut gabisa kuliah karena uangnya kurang misalnya. Itu satu hal. Hal yang lainnya, fakta ini berdampak ke psikologis gue sih, suka ngerasa ngga pantes untuk bisa bersinar, sekadar berpenampilan yang fancy dikit aja rasanya kayak menyayat-nyatat perasaan sendiri, makanya gue hampir selalu pake sepatu yang sama dalam berbagai occassion, dan seringnya cuma pake kaos dan celana panjang aja, karena gue ngerasa nggak pantes untuk lebih dari itu. Pas gue nonton java jazz, tiap ada temen yang nanya (kok gak ngajak, kok gak ngabarin, dll) gue selalu berusaha memperjelas kalau gue dapet tiket gratis, keberuntungan semata, karena gue ngerasa nggak pantes untuk nonton konser mahal-mahal. Satu lagi, gue sangat suka nyanyi dan pengen banget jadi penyanyi beneran, punya band beneran, tapi there’s something always hold me back: rasa tidak pantas berada di sana, bergabung dengan musisi-musisi itu, berada di spotlight. Rasanya gue nggak pantas mendapatkan itu, apalagi sejauh ini yang gue temukan berhasil di sana adalah mereka yang privileged sejak awal. Ohiya, gue juga suka nggak pede dalam menjalin hubungan, kalau gue tau orang yang gue suka atau orang yang lagi deket sama gue itu privileged kid gue langsung “duh.. gausah aja kali ya?” Haha, fucked up mind banget ya, kayak.. entah kenapa bisa muncul perasaan nggak pantes gitu, nggak ngerti juga korelasinya di mana, tapi itu nyata terjadi. Gue pengen banget menghilangkan perasaan-perasaan mengganggu ini, tapi belum nemu caranya. Mudah-mudahan dengan nulis ini jadi langkah awal karena gue sadar bahwa mikir kayak gini nggak baik buat diri gue, seakan-akan gue berlindung di balik kata “bukan orang ada” itu, kayak yang temen gue bilang.

Dear beloved friends, if you read this, please forgive me for being so fucked up. I’m on my way to change this. I don’t want to be in a nutshell forever. I’m so thankful to have you all in my life, you’re all are the greatest fortune for me.

INTP

Pure logician, keren ya, kelihatannya. Tapi di balik dua kata tersebut, personality yang satu ini sangat-sangat sampah sih.

Don’t ask me how rubbish this personality is, you can find all of the information at quora, find as much as you wish, and after that you can laugh at us. Yes, we will not mad at you, we’re mad already, mad at ourselves.

I hate myself for being part of this rubbish INTPs, most of the time.

Ergh, why am I crying now? -_-”

Akhir kata, maaf sudah bikin kesal.

Surealisme (1)

Tersebutlah seorang anak perempuan

entah ia begitu disayang atau malah dikutuk oleh Tuhan

panggilan jiwanya adalah mengikuti pikiran yang senantiasa berkelana

jika horizon adalah batas antara aman berenang dengan citraan samudera membentang

maka ia dengan membara rela terbawa debur ombak penuh ketidakpastian

melampaui batas

menuju laut lepas

keluar dari realitas

*

(Ikhma Hariyanti Batubara, di tengah deadline pada dunia yang katanya nyata, sekaligus tengah menikmati hidup surreal)

Sesaat Meracau Lalu Sedikit Doa

Katanya, seorang anak bisa menjadi penyelamat orangtua di akhirat nanti. Kepercayaan itu dipegang teguh di negara ini, yang memang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam berdasarkan yang tertera pada KTP-nya. Tidak hanya dipegang teguh, tapi juga diglorifikasi menjadi seakan-akan satu-satunya pintu ke surga bagi orang tuanya.

Katanya, memaknai suatu hal terkait keagamaan atau perintah Tuhan dengan daya pikir milik diri sendiri merupakan suatu tindakan yang penuh arogansi. Ulama lebih tau, kitab beserta tafsir dari berbagai mazhab disusun dengan metode yang sudah menjadi best practice, sehingga jika tidak kita ikuti maka termasuklah kita ke dalam kategori kaum ignorant.

Entah.

Aku pun masih saja bertanya-tanya, hidup di dunia ini untuk apa? Apa iya sekadar media saringan manusia yang layak masuk surga? Apa iya yang namanya layak itu selalu jatuh kepada orang-orang yang patuh dengan kata per kata pada kitab dengan pemaknaan yang literal? Apa iya tidak ada tempat di surga untuk para pemikir bebas yang walau tidak senantiasa mengikuti kitab bisa bertanggung jawab atas perilakunya alias tidak merugikan siapapun?

Tuhan, seandainya yang punya kesempatan magis berbincang dengan-Mu bukan hanya nabi..

Sudahlah, cukup meracaunya.

Sedikit doa untuk orangtua, karena cinta mereka kepadaku yang entah sedalam palung lautan mana, yang selalu bikin galau karena tak terbalaskan, bahkan seakan dianggap remeh, walau diri ini tak pernah bermaksud demikian.

Ya, Allah.. Jika aku tidak punya cukup daya untuk menjadi penyelamat kedua orangtuaku, aku Mohon jangan salahkan mereka, mereka sudah berusaha sebaik mungkin menurut apa yang mereka yakini dan menurut tuntunan-Mu yang umum dimaknai oleh umat di negara ini, bukan salah mereka jika aku tidak memiliki pola pikir dan perspektif yang sama sehingga (mungkin) aku tidak layak menjadi seorang penyelamat. Aku mohon, tetap perkenankan orangtuaku untuk bisa masuk surga nantinya. Aamiin.

Sebelah Mata

Sebelah mataku yang mampu melihat bercak adalah warna-warna mempesona.

Sebelah mataku yang mempelajari, gelombang ‘kan mengisi seluruh ruang tubuhku.

Tapi sebelah mataku yang lain menyadari, gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang.

(Sebelah Mata – Efek Rumah Kaca)

Akhir-akhir ini gue tersadar, ternyata kita manusia sering memandang sebelah mata, nggak cuma terhadap satu sama lain, tapi ya.. apapun.

Matematika dilihat dengan sebelah mata, dianggap nggak penting untuk orang yang nantinya akan jadi seniman, katanya. Pengen ketawa sih dengernya, hahaha. Kayak quote yang ada di film pendek bersambung berjudul “Sore”, buat gue hidup itu lebih luas dari sekadar kerjaan. Let say kerjaan kita adalah seniman, tapi apakah dengan begitu maka nggak butuh jadi orang yang logis? Hidup tuh butuh keseimbangan loh. Fine, emang sih sistem pendidikan tuh sucks banget, bagi gue menilai orang dengan parameter yang sama rata tuh nggak bisa. Tapi bukan berarti kita nggak butuh mempelajari hal-hal itu dong. Anyway, kalau emang beneran seniman sih biasanya pikirannya lebih terbuka luas yah, kemungkinannya kecil untuk memandang sesuatu dengan sebelah mata. ๐Ÿ™‚

Kebebasan dilihat dengan sebelah mata. Okelah silakan kalau mau berbuat sesuka hatilo, tapi kalau sampai bikin rugi orang? kalau sampai malah lo jadi menekan orang yang nggak sama dengan lo pandangannya tentang kebebasan? yakin lo adalah seorang pecinta kebebasan yang sebenarnya? pikirin lagi deh.

Ini paling sering sih, memandang orang lain dengan sebelah mata karena orang ini pernah salah besar, atau bahkan lo nggak tau ini orang salah apa engga, cuma denger-denger aja, eh terpengaruh. Duh. Kesian sumpah. Kesian, nggak punya kemauan buat validasi terlebih dahulu. “Did you know that you could be wrong and swear you’re right?” (John Mayer). Lo dan orang-orang yang lo percaya bisa banget salah. Ingat itu.

Apa memang nggak ada yang penting lagi ya selain kesenangan diri sendiri aja? Gue akui sih, terkadang memandang sebelah mata memang memuaskan, memuaskan ego kali ya, lo denger apa yang ingin lo denger aja, eh ini mah sebelah telinga yah namanya. :p tapi pas nyadar langsung merasa bersalah dan sakit sendiri. Makanya gue pribadi ngurang-ngurangin, karena memandang sebelah mata bagi gue nggak cuma menyakiti orang lain, tapi pada akhirnya pun menyakiti diri sendiri juga.. kaloooo nyadar yah. Semoga selalu diberi kesadaran.

Mellow

Gue lagi mellow beberapa hari ini, karena bokap sedang sakit. Hasil lab-nya gangguan liver lagi, katanya sih kali ini ringan aja. Tapi tetep aja bikin khawatir, beberapa tahun lalu pas bokap kena gangguan liver serem banget, ya namanya lo biasanya liat ortu baik-baik aja tau-tau harus terbaring lemes ditambah makanan susah masuk karena badannya nolak terus.

Susah banget dibilangin sih, tetep aja ngerokok dan minum kopi udah tau badannya ga sekuat dulu lagi.

Salah Nangkep

Sebagaimana millenial pada umumnya, gue doyan ngepost instagram story, whatsapp story, moment di path, atau random things di facebook (tapi biasanya kalau sifatnya curhat nggak di facebook sih).

Dari postingan-postingan itu, ternyata ada orang-orang yang peduli banget (entah peduli, entah penasaran aja) sampe-sampe ngirimin gue personal message untuk membahas postingan gue itu. Yang bikin kaget sih kepedulian mereka tuh berawal dari salah nangkep, wkwk. Gue ceritakan dua contoh pengalaman salah nangkepnya orang-orang ini di bawah ya.

Cerita pertama:

Gue suka ngepost tentang feminisme, curiosity, dan hal-hal yang sifatnya filosofis. Well, gue bukan feminis sih, sebisa mungkin nggak melabeli diri gue dengan apapun karena biasanya ujung-ujungnya jadi ekstrimis, dan itu nggak sehat menurut gue. Gue cuma bercita-cita jadi orang yang independen, tapi bukan berarti nggak kepengen nikah dan punya anak ya, ih gue mah pengen banget deh, tapi ya nggak mau desperate ngarep itu akan kejadian secepatnya sampe-sampe galau durjana di media sosial. Perihal feminisme bukan cuma soal independen vs menikah sih, ya biar ga kepanjangan gue nulisnya tentang itu aja yang paling mainstream. Tentang curiosity dan philosophy, yah emang kebiasaan dari kecil sih suka penasaran dan mikir, yaudeh kebawa ampe sekarang.

Dari postingan tentang feminisme, curiosity, dan filosofi itu, gue kaget banget ada seorang teman yang tiba-tiba message bilang gini “biasanya sih yang suka mosting kayak gitu tuh orang-orang yang sedang mempertanyakan orientasi seksualnya.” WHAT?! gue baru tau malah kalau biasanya kayak begitu. lol. fyi, gue dari pertama kali suka sama orang sampe sekarang sih orangnya selalu laki-laki, dan ga pernah kepikiran buat doyan cewe. I already have boobs and I don’t need more. HAHA. canda, semoga teman-teman yang L yang baca ini nggak marah, karena ini pure pemikiran gue buat diri gue sendiri. yah intinya nggak pernah romantically or sexually attracted to female sih alhamdulillaah.

Cerita ke-2:

Gue kurang suka tekanan dalam pekerjaan, dan paling nggak suka kalau harus multitasking. Nggak suka tekanan bukan berarti nggak mau ngejalanin sih, ya nggak suka aja, hahahaha. Nggak suka multitasking karena berdasarkan beberapa artikel ilmiah yang gue baca, multitasking itu ngerusak otak. gue sayang banget sama otak gue, berhubung cuma itu yang gue punya, karena gue nggak cantik (definisi cantik gue dian sastro btw) dan gue bukan orang yang ramah ramah banget, jadi otak ai harus ai jaga sebaik-baiknya. Nah, saat ini kerjaan gue itu banyak tekanan, dari vendor yang ngejar-ngejar agreement lah, orang procurement yang kadang suka nyebelin, lalu ditambah sekarang harus ngerjain hal teknis juga yaitu bantuin user core banking yang bermasalah saat menggunakan sistem which is dikejar-kejar juga ama usernya. kapan ya dikejar-kejarnya ama cowo yang gue suka gitu? #lahcurhat ohiya, yang lebih bikin tertekan adalah gaji yang kurang, wkwkwkwkwk. dannn tambahan lagi, gue harus ngelarin tesis gue. hoah stressssss gilak.

Dengan keadaan tertekan itu, gue ngepost-ngepost deh, contoh: “i’m going to explode”. Ini biasa banget nggak sih? wkwkwk. gue kaget loh setelah ngepost itu ada temen yang reply dengan sangat khawatir bilang kalau dia nanya gue kenapa juga ga akan dijawab, lalu disambung dengan kalimat-kalimat penyemangat bahwa yang kesulitan nggak cuma gue, Allah nggak membebani hamba-Nya lebih dari yang disanggupi, dll. Well, gue seneng sih ada temen yang perhatian gitu, mungkin karena makin ke sini orang-orang makin aware dengan mental illness kali ya jadinya sampe nyemangatin gitu.

Itu dua contoh, ada lagi sih beberapa, tapi kepanjangan kalau ditulis semua. Ga nyangka aja sih, salah nangkep bisa sejauh itu ya. Gue jadi berpikir jangan-jangan orang-orang pun banyak yang salah nangkep. Bahaya juga coy kalo gue jomblo mulu gara-gara dikira nggak doyan cowo, wkwkwkwk.

Hemm, mungkin juga teman-teman gue itu mengait-ngaitkan dengan postingan gue yang lain. Kadang gue suka nulis forgive the past dan semacamnya, sapatau dikiranya gue punya masa lalu yang sangat kelam gitu. Padahal mah itu tentang forgive cowo stupid dan brengsek di masa lalu biar bisa buka diri lagi, wkwk. Sekelam-kelamnya idup gue cuma IP jelek dan lulus telat sih, kalau dibandingin ama teman-teman yang melejitz dan bersinar ya emang kelam, tapi kalau dibanding sama yang broken home, rape victim, drug addict, atau yang punya mental illness, gue malu banget sih kalau sampe mengaku hidup gue kelam, ga berempati banget gue kalau sampe merasa jadi orang yang gagal hanya karena lulus telat. hehehe.

apakah aku harus berhenti ngepost yang berat atau berpotensi terlihat berat ya? hahahaha.