Surealisme (1)

Tersebutlah seorang anak perempuan

entah ia begitu disayang atau malah dikutuk oleh Tuhan

panggilan jiwanya adalah mengikuti pikiran yang senantiasa berkelana

jika horizon adalah batas antara aman berenang dengan citraan samudera membentang

maka ia dengan membara rela terbawa debur ombak penuh ketidakpastian

melampaui batas

menuju laut lepas

keluar dari realitas

*

(Ikhma Hariyanti Batubara, di tengah deadline pada dunia yang katanya nyata, sekaligus tengah menikmati hidup surreal)

Advertisements

Sesaat Meracau Lalu Sedikit Doa

Katanya, seorang anak bisa menjadi penyelamat orangtua di akhirat nanti. Kepercayaan itu dipegang teguh di negara ini, yang memang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam berdasarkan yang tertera pada KTP-nya. Tidak hanya dipegang teguh, tapi juga diglorifikasi menjadi seakan-akan satu-satunya pintu ke surga bagi orang tuanya.

Katanya, memaknai suatu hal terkait keagamaan atau perintah Tuhan dengan daya pikir milik diri sendiri merupakan suatu tindakan yang penuh arogansi. Ulama lebih tau, kitab beserta tafsir dari berbagai mazhab disusun dengan metode yang sudah menjadi best practice, sehingga jika tidak kita ikuti maka termasuklah kita ke dalam kategori kaum ignorant.

Entah.

Aku pun masih saja bertanya-tanya, hidup di dunia ini untuk apa? Apa iya sekadar media saringan manusia yang layak masuk surga? Apa iya yang namanya layak itu selalu jatuh kepada orang-orang yang patuh dengan kata per kata pada kitab dengan pemaknaan yang literal? Apa iya tidak ada tempat di surga untuk para pemikir bebas yang walau tidak senantiasa mengikuti kitab bisa bertanggung jawab atas perilakunya alias tidak merugikan siapapun?

Tuhan, seandainya yang punya kesempatan magis berbincang dengan-Mu bukan hanya nabi..

Sudahlah, cukup meracaunya.

Sedikit doa untuk orangtua, karena cinta mereka kepadaku yang entah sedalam palung lautan mana, yang selalu bikin galau karena tak terbalaskan, bahkan seakan dianggap remeh, walau diri ini tak pernah bermaksud demikian.

Ya, Allah.. Jika aku tidak punya cukup daya untuk menjadi penyelamat kedua orangtuaku, aku Mohon jangan salahkan mereka, mereka sudah berusaha sebaik mungkin menurut apa yang mereka yakini dan menurut tuntunan-Mu yang umum dimaknai oleh umat di negara ini, bukan salah mereka jika aku tidak memiliki pola pikir dan perspektif yang sama sehingga (mungkin) aku tidak layak menjadi seorang penyelamat. Aku mohon, tetap perkenankan orangtuaku untuk bisa masuk surga nantinya. Aamiin.

Sebelah Mata

Sebelah mataku yang mampu melihat bercak adalah warna-warna mempesona.

Sebelah mataku yang mempelajari, gelombang ‘kan mengisi seluruh ruang tubuhku.

Tapi sebelah mataku yang lain menyadari, gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang.

(Sebelah Mata – Efek Rumah Kaca)

Akhir-akhir ini gue tersadar, ternyata kita manusia sering memandang sebelah mata, nggak cuma terhadap satu sama lain, tapi ya.. apapun.

Matematika dilihat dengan sebelah mata, dianggap nggak penting untuk orang yang nantinya akan jadi seniman, katanya. Pengen ketawa sih dengernya, hahaha. Kayak quote yang ada di film pendek bersambung berjudul “Sore”, buat gue hidup itu lebih luas dari sekadar kerjaan. Let say kerjaan kita adalah seniman, tapi apakah dengan begitu maka nggak butuh jadi orang yang logis? Hidup tuh butuh keseimbangan loh. Fine, emang sih sistem pendidikan tuh sucks banget, bagi gue menilai orang dengan parameter yang sama rata tuh nggak bisa. Tapi bukan berarti kita nggak butuh mempelajari hal-hal itu dong. Anyway, kalau emang beneran seniman sih biasanya pikirannya lebih terbuka luas yah, kemungkinannya kecil untuk memandang sesuatu dengan sebelah mata. 🙂

Kebebasan dilihat dengan sebelah mata. Okelah silakan kalau mau berbuat sesuka hatilo, tapi kalau sampai bikin rugi orang? kalau sampai malah lo jadi menekan orang yang nggak sama dengan lo pandangannya tentang kebebasan? yakin lo adalah seorang pecinta kebebasan yang sebenarnya? pikirin lagi deh.

Ini paling sering sih, memandang orang lain dengan sebelah mata karena orang ini pernah salah besar, atau bahkan lo nggak tau ini orang salah apa engga, cuma denger-denger aja, eh terpengaruh. Duh. Kesian sumpah. Kesian, nggak punya kemauan buat validasi terlebih dahulu. “Did you know that you could be wrong and swear you’re right?” (John Mayer). Lo dan orang-orang yang lo percaya bisa banget salah. Ingat itu.

Apa memang nggak ada yang penting lagi ya selain kesenangan diri sendiri aja? Gue akui sih, terkadang memandang sebelah mata memang memuaskan, memuaskan ego kali ya, lo denger apa yang ingin lo denger aja, eh ini mah sebelah telinga yah namanya. :p tapi pas nyadar langsung merasa bersalah dan sakit sendiri. Makanya gue pribadi ngurang-ngurangin, karena memandang sebelah mata bagi gue nggak cuma menyakiti orang lain, tapi pada akhirnya pun menyakiti diri sendiri juga.. kaloooo nyadar yah. Semoga selalu diberi kesadaran.

Mellow

Gue lagi mellow beberapa hari ini, karena bokap sedang sakit. Hasil lab-nya gangguan liver lagi, katanya sih kali ini ringan aja. Tapi tetep aja bikin khawatir, beberapa tahun lalu pas bokap kena gangguan liver serem banget, ya namanya lo biasanya liat ortu baik-baik aja tau-tau harus terbaring lemes ditambah makanan susah masuk karena badannya nolak terus.

Susah banget dibilangin sih, tetep aja ngerokok dan minum kopi udah tau badannya ga sekuat dulu lagi.

Salah Nangkep

Sebagaimana millenial pada umumnya, gue doyan ngepost instagram story, whatsapp story, moment di path, atau random things di facebook (tapi biasanya kalau sifatnya curhat nggak di facebook sih).

Dari postingan-postingan itu, ternyata ada orang-orang yang peduli banget (entah peduli, entah penasaran aja) sampe-sampe ngirimin gue personal message untuk membahas postingan gue itu. Yang bikin kaget sih kepedulian mereka tuh berawal dari salah nangkep, wkwk. Gue ceritakan dua contoh pengalaman salah nangkepnya orang-orang ini di bawah ya.

Cerita pertama:

Gue suka ngepost tentang feminisme, curiosity, dan hal-hal yang sifatnya filosofis. Well, gue bukan feminis sih, sebisa mungkin nggak melabeli diri gue dengan apapun karena biasanya ujung-ujungnya jadi ekstrimis, dan itu nggak sehat menurut gue. Gue cuma bercita-cita jadi orang yang independen, tapi bukan berarti nggak kepengen nikah dan punya anak ya, ih gue mah pengen banget deh, tapi ya nggak mau desperate ngarep itu akan kejadian secepatnya sampe-sampe galau durjana di media sosial. Perihal feminisme bukan cuma soal independen vs menikah sih, ya biar ga kepanjangan gue nulisnya tentang itu aja yang paling mainstream. Tentang curiosity dan philosophy, yah emang kebiasaan dari kecil sih suka penasaran dan mikir, yaudeh kebawa ampe sekarang.

Dari postingan tentang feminisme, curiosity, dan filosofi itu, gue kaget banget ada seorang teman yang tiba-tiba message bilang gini “biasanya sih yang suka mosting kayak gitu tuh orang-orang yang sedang mempertanyakan orientasi seksualnya.” WHAT?! gue baru tau malah kalau biasanya kayak begitu. lol. fyi, gue dari pertama kali suka sama orang sampe sekarang sih orangnya selalu laki-laki, dan ga pernah kepikiran buat doyan cewe. I already have boobs and I don’t need more. HAHA. canda, semoga teman-teman yang L yang baca ini nggak marah, karena ini pure pemikiran gue buat diri gue sendiri. yah intinya nggak pernah romantically or sexually attracted to female sih alhamdulillaah.

Cerita ke-2:

Gue kurang suka tekanan dalam pekerjaan, dan paling nggak suka kalau harus multitasking. Nggak suka tekanan bukan berarti nggak mau ngejalanin sih, ya nggak suka aja, hahahaha. Nggak suka multitasking karena berdasarkan beberapa artikel ilmiah yang gue baca, multitasking itu ngerusak otak. gue sayang banget sama otak gue, berhubung cuma itu yang gue punya, karena gue nggak cantik (definisi cantik gue dian sastro btw) dan gue bukan orang yang ramah ramah banget, jadi otak ai harus ai jaga sebaik-baiknya. Nah, saat ini kerjaan gue itu banyak tekanan, dari vendor yang ngejar-ngejar agreement lah, orang procurement yang kadang suka nyebelin, lalu ditambah sekarang harus ngerjain hal teknis juga yaitu bantuin user core banking yang bermasalah saat menggunakan sistem which is dikejar-kejar juga ama usernya. kapan ya dikejar-kejarnya ama cowo yang gue suka gitu? #lahcurhat ohiya, yang lebih bikin tertekan adalah gaji yang kurang, wkwkwkwkwk. dannn tambahan lagi, gue harus ngelarin tesis gue. hoah stressssss gilak.

Dengan keadaan tertekan itu, gue ngepost-ngepost deh, contoh: “i’m going to explode”. Ini biasa banget nggak sih? wkwkwk. gue kaget loh setelah ngepost itu ada temen yang reply dengan sangat khawatir bilang kalau dia nanya gue kenapa juga ga akan dijawab, lalu disambung dengan kalimat-kalimat penyemangat bahwa yang kesulitan nggak cuma gue, Allah nggak membebani hamba-Nya lebih dari yang disanggupi, dll. Well, gue seneng sih ada temen yang perhatian gitu, mungkin karena makin ke sini orang-orang makin aware dengan mental illness kali ya jadinya sampe nyemangatin gitu.

Itu dua contoh, ada lagi sih beberapa, tapi kepanjangan kalau ditulis semua. Ga nyangka aja sih, salah nangkep bisa sejauh itu ya. Gue jadi berpikir jangan-jangan orang-orang pun banyak yang salah nangkep. Bahaya juga coy kalo gue jomblo mulu gara-gara dikira nggak doyan cowo, wkwkwkwk.

Hemm, mungkin juga teman-teman gue itu mengait-ngaitkan dengan postingan gue yang lain. Kadang gue suka nulis forgive the past dan semacamnya, sapatau dikiranya gue punya masa lalu yang sangat kelam gitu. Padahal mah itu tentang forgive cowo stupid dan brengsek di masa lalu biar bisa buka diri lagi, wkwk. Sekelam-kelamnya idup gue cuma IP jelek dan lulus telat sih, kalau dibandingin ama teman-teman yang melejitz dan bersinar ya emang kelam, tapi kalau dibanding sama yang broken home, rape victim, drug addict, atau yang punya mental illness, gue malu banget sih kalau sampe mengaku hidup gue kelam, ga berempati banget gue kalau sampe merasa jadi orang yang gagal hanya karena lulus telat. hehehe.

apakah aku harus berhenti ngepost yang berat atau berpotensi terlihat berat ya? hahahaha.

Tekanan Menjelang Senin

Jam 1.16, menjelang Senin pagi, masih terjaga. Entah kenapa banyak banget pikiran dan akhirnya stress sendiri. Sering banget nih begini, di waktu menjelang Senin pagi begini. Apa gue se-nggak suka itu sama pekerjaan gue saat ini sampai jadi tertekan begini menjelang Senin? T_T

Sayangnya saat ini yang terbaik ya tetap stay, dengan pertimbangan ini dan itu. Kalau emang mau pindah ya palingan akhir tahun ini atau awal tahun depan, setelah lulus.

Ikhma harus percaya, habis masa-masa sulit ini pasti akan ada banyak kemudahan. Jangan menyerah ya, Ikhma! Sabar, usaha. \m/

Love

“If a writer never write a single thing about you, either it’s about good things or bad things, then he/she doesn’t love you, they just don’t.” I heard it somewhere, and somehow I agree with that. I always think that human sees the beauty of love just like they see the beauty of art, and writing is art. We, as human, always want to remember good things happened in life, and love is one of them, we want to capture it forever. The writer, they will capture it with writing.

Anyway, I might not be that kind of genius writer who produce best seller books around the world, I’m just a corporate worker who loves writing poems or anything on my mind to this blogging platform, let’s say writing is my hobby, hehe.

With the thought of the relation between love and writing, I can differentiate between love and obsession, and I feel blessed, because it helps me much to overcome my ego when someone leave me behind (either for no reason or for some other girls), it’s easier for me to let go by realizing that it’s just an obsession.

Besides, I believe that love sets you free. If you truly love someone then you will not fill yourself with obsession, because obsession leads to self imprisonment.

Oh, 2:23 a.m. I wonder why I can’t sleep this time. Am I in love?

Hell, no. Ikhma, you’re a thinker, your brain just can’t stop thinking, and you already passed your sleepy time, that’s why. HA BURNNN~

Physics of Love – Kim In Yook


Mass is not proportional to volume. A girl as small as a violet, a girl who moves like a flower petal is pulling me towards her with more force than her mass. Just then, like Newton’s apple, I rolled towards her without stopping until I fell for her .. with a thump. My heart keeps bouncing between the sky and the ground. It was my first love.

Shortly Before 2017

So I’ve spent hours contemplating about my life, which leads to teary eyes in the end. I’m not quite sure this activity will make any change, since I will forget about all of those wisdom the very next day after I wake up in the morning. Yes, it happened, most of the time.

I should get to sleep as soon as possible if I want that contemplation not wasted one more time, but as you see what I’m doing right now, I’m still writing this piece of shit.

Dear, God.

First, I beg You please to help me wake up at 5 o’clock this morning, I need to wash all of my shoes and clean up my house. This is my short-term resolution, my start, I don’t want to regret no more, I need to start small in order to conquer bigger things. Please.

Second, I’ve made a decision about completing my Master degree. I really wish this is the best decision. I need Your bless.

Third, I want to give more to my parents, please help me to make it true.
I don’t want to say “what if”, I don’t want to compare my reality to what I see from others, because I know people have their own struggles that we have no idea how to face it if we’re on their side. Because I know everything will fall into their places.

So, please, give me strength, give us strength.

I will do my best. I will keep the faith.

Next Stop: Rabobank

Gue suka banget lagu Stop This Train-nya John Mayer, buat yang belum tahu silakan telusuri sendiri di dunia internet ini. Dalam lagu itu, abang John mengibaratkan hidup seperti kereta yang sedang berjalan. Sejak tahu lagu itu, gue pun juga mengibaratkan hidup dengan analogi yang sama, mungkin karena kereta adalah alat transportasi yang paling gue sukai kali yah jadinya lebih ngena gitu.

Kereta karir gue sekarang sedang berhenti di sebuah stasiun bernama Rabobank, salah satu bank asing, tepatnya dari Belanda. Reaksi beberapa teman dekat gue ketika tahu gue apply ke bank, mereka kayak.. “Yakin lo?” Wakakak, yah, mereka yang mengenal gue dengan baik atau mereka yang pemerhati manusia emang bakal kayak gitu sih reaksinya, karena menurut mereka gue ini bukan tipe manusia yang cocok buat kerja 8 to 5, di institusi formal pula, karena (dianggap) lack of freedom. But, the fact is.. Nggak juga ah. Gue baru menyadari sesuatu tentang diri ini, ternyata gue termasuk dalam tipe manusia yang fleksibel. Gini, awalnya gue akui gue takut buat kerja di institusi formal begini, takut nggak bisa bangun lebih pagi, takut nggak konsen kerja di waktu pagi dan siang (I thought I was a night owl), takut bosen, takut nggak nyaman, de-el-el lah. Ternyata pas dijalanin, wih asik ya berangkat pagi-pagi, seger di jalanan, wih gue konsen-konsen aja tuh kerja pas matahari masih kelihatan, terus nggak bosen juga dan nyaman-nyaman aja, everything is totally okay. Well, semoga nggak cuma di awal sih, gue harus mempertahankan ini at least untuk setahun ke depan. But the statement that I’m a night owl is true, I just realized that I can be an early bird too, flexible, right? #proud :p

Soal lack of freedom, ya nggak munafik sih, emang harus rela mengorbankan 9 jam gue setiap harinya untuk berada di kantor. Mau gimana lagi? Gue bukan anaknya milyarder yang sendawa aja bisa keluar duit sih, kalo iya mah gue udah bikin studio musik dan bikin musik aja setiap hari. Nah, supaya suatu saat gue bisa bikin musik aja setiap hari, gue musti bekerja keras dulu sekarang, sambil ningkatin terus skill musik gue, hohoho.

Lagipula ya, kalau memang lo benar-benar mengerti makna kebebasan, di titik manapun lo berdiri saat ini, lo akan tetap merasa bebas. Freedom is a state of mind. Bebas itu bukan cuma guling-guling di tengah padang rumput, jadi Teletubies aja kalau mau kayak gitu mah. Bebas itu bukan cuma milik mereka yang bekerja di dunia warna-warni, bahkan sebenarnya bisa aja mereka lebih hectic sih, kalau nggak percaya tanya aja temen-temenlo yang anak TV. Yah, bebas itu diri sendiri yang menentukan, sama kayak bahagia, prasangka, iman, semua itu diri sendiri yang menentukan. Duh kebanyakan OOT-nya, nanti deh bikin satu postingan sendiri tentang kebebasan bagi gue, hoho.

Gue harus selalu kasih yang terbaik, at least untuk satu tahun ke depan, kalau dapet kesempatan buat lebih lama lagi  di sana, gue harus bisa lebih baik lagi. Semangat! \m/